Sabar dalam Islam: Makna Sejati, Tiga Jenisnya, dan Cara Mengamalkan Sabar yang Indah

Assalamu'alaikum warahmatullah, Sahabat Faaza.

Coba jujur sebentar. Kalau ada orang menasihati kamu "sabar ya" saat kamu sedang diuji, kadang rasanya justru bikin sesak, bukan? Ada yang sampai berkata, "Ustadz, nasihati saya, tapi tolong jangan bilang sabar."

Padahal, Nabi Muhammad ﷺ sendiri diperintahkan bersabar berkali-kali di dalam Al-Qur'an. Kalau manusia terbaik saja diperintah sabar, apalagi kita. Imam Ahmad bin Hanbal bahkan menyebut bahwa kata sabar disebut sekitar 90 tempat dalam Al-Qur'an. Satu amal disebut sekali saja sudah menunjukkan keagungannya. Ini disebut hampir seratus kali.

Masalahnya, kebanyakan kita menyempitkan makna sabar hanya pada satu hal: menahan diri saat tertimpa musibah. Padahal sabar jauh lebih luas dari itu. Ada sabar yang justru kita jalani setiap hari tanpa sadar, dan ada tingkatan sabar yang mengangkat derajat seorang hamba sampai ke posisi yang tidak bisa dicapai lewat salat dan sedekah biasa.

Artikel ini merangkum tema sabar dari yang bersumber dari Al-Qur'an, hadits sahih, dan kitab-kitab Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Kita akan bahas maknanya, tiga jenisnya, kenapa ia begitu agung, sepuluh sebab yang menumbuhkannya, sampai kiat praktis mengamalkannya.

Mari kita mulai dari yang paling dasar: apa sebenarnya arti sabar.

Apa itu sabar? Bukan sekadar "nrimo"

Secara bahasa, sabar (aṣ-ṣabr) berasal dari kata al-ḥabs, yang berarti menahan. Jadi inti sabar adalah menahan diri.

Menahan apa? Para ulama menjelaskan, sabar berarti menahan tiga hal dari segala bentuk yang menunjukkan ketidaksabaran:

1. Menahan anggota badan. Tidak membanting barang, tidak memukul-mukul pipi, tidak menjambak rambut, tidak berguling-guling ketika ditimpa musibah.

2. Menahan lisan. Tidak mengeluh berlebihan, tidak meratap, tidak berkata-kata buruk, tidak protes kepada takdir.

3. Menahan hati. Tidak marah kepada Allah, tidak menyalahkan takdir-Nya, tidak berburuk sangka kepada Rabb.

Karena itu, Nabi ﷺ dengan tegas melarang cara-cara jahiliah dalam menghadapi musibah:

"Laisa minnā man syaqqal-juyūba wa ḍaraba-l khudūda wa da'ā bi-da'wal-jāhiliyyah."

"Bukan termasuk golongan kami orang yang merobek-robek bajunya, menampar-nampar pipinya, dan menyeru dengan seruan jahiliah (saat tertimpa musibah)." (HR. Bukhari & Muslim)

Jadi sabar itu aktif, bukan pasif. Ia adalah usaha menahan tiga pintu tadi (badan, lisan, hati) agar tetap terjaga saat diguncang. Dan justru di situlah letak beratnya, sekaligus letak pahalanya.

Sabrun jamil: sabar yang indah

Ada satu level sabar yang Al-Qur'an sebut secara khusus: ṣabrun jamīl, sabar yang indah. Teladannya adalah Nabi Ya'qub 'alaihissalam.

Ketika anak-anaknya melaporkan bahwa Yusuf dimakan serigala (padahal sebenarnya mereka menjualnya), Ya'qub 'alaihissalam tidak meledak. Beliau berkata, "Faṣabrun jamīl" (maka kesabaran yang indah itulah pilihanku). Bertahun-tahun kemudian, saat Yusuf hilang, Bunyamin ditahan, dan satu anaknya lagi tidak berani pulang, beban itu menumpuk. Tetap saja beliau berkata "ṣabrun jamīl".

Apa rahasianya? Kuncinya ada di ayat ini:

"Qāla innamā asykū baṡṡī wa ḥuznī ilallāhi wa a'lamu minallāhi mā lā ta'lamūn."

"Dia (Ya'qub) menjawab, 'Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.'" (QS. Yusuf: 86) (Quran NU Online — Yusuf 86)

Inilah definisi sabrun jamil: sabar yang tidak mengeluh kepada manusia. Kalaupun mengeluh, hanya kepada Allah, dan itu bukan untuk protes, tapi untuk mencari solusi.

Ada aturan emas yang indah sekali di sini. Ada ungkapan hikmah: kalau kamu mengeluhkan kesulitanmu kepada sesama manusia, hakikatnya kamu sedang mengeluhkan Allah (Yang Maha Penyayang) kepada pihak yang tidak sayang padamu. Maka balik logikanya:

Keluhkanlah manusia kepada Allah, jangan mengeluhkan Allah (takdir-Nya) kepada manusia.

Di zaman media sosial, ini terasa relevan sekali. Sedikit-sedikit curhat di story, sedikit-sedikit posting keluhan. Padahal semakin banyak kita mengumbar keluh ke manusia, semakin tergerus keindahan sabar kita. Ganti kebiasaan itu: bawa keluh-kesahmu ke sujud, ke doa, ke istighfar.

Tiga jenis sabar yang wajib kamu kenali

Ini bagian yang paling sering disalahpahami. Banyak orang mengira sabar itu hanya soal menghadapi musibah. Padahal para ulama sepakat, sabar terbagi menjadi tiga jenis. (Rumaysho — Tiga macam sabar, Firanda.com — Apa itu sabar dan bentuk-bentuknya)

1. Sabar dalam ketaatan

Yaitu sabar menjalankan perintah Allah, meski berat, meski malas, meski ada godaan untuk meninggalkannya. Contohnya:

  • Bangun untuk salat subuh berjamaah, melawan nikmatnya tidur.

  • Menegakkan salat malam.

  • Berdakwah dan mengajak pada kebaikan.

  • Bersedekah dengan ikhlas, tanpa pamer.

  • Menyambung silaturahmi, meski kadang malas bertemu kerabat.

  • Berbakti kepada orang tua yang mungkin sedang rewel di usia senja.

Allah berfirman:

"Waṣbir 'alā mā yaqūlūna wahjurhum hajran jamīlā." dan di ayat lain, "Wa'mur ahlaka biṣ-ṣalāti waṣṭabir 'alaihā."

"Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya." (QS. Thaha: 132)

Menariknya, para ulama menilai sabar jenis ini yang paling tinggi, karena tujuan kita diciptakan memang untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56). Sabar dalam ketaatan butuh tiga tingkat kesempurnaan menurut Ibnu Qayyim: ikhlas (tidak mengharap pujian), sesuai sunnah (mengikuti teladan Nabi ﷺ), dan istiqamah (terus-menerus, tidak putus di tengah jalan).

2. Sabar meninggalkan maksiat

Yaitu sabar menahan diri dari larangan Allah, padahal ada kesempatan dan godaan untuk melakukannya. Contohnya:

  • Menundukkan pandangan dari yang tidak halal.

  • Tidak menonton tontonan haram.

  • Tidak memakan harta riba, meski sedang butuh uang.

  • Tidak berbuat curang dalam bisnis, meski peluangnya terbuka.

  • Tidak menggunjing, meski "bahannya" ada.

Teladan agungnya adalah Nabi Yusuf 'alaihissalam yang menolak ajakan istri pembesar Mesir, padahal pintu tertutup dan kesempatan terbuka lebar (QS. Yusuf: 23). Ibnu Qayyim memberi kiat agar kuat meninggalkan maksiat: ingat dampak buruknya di dunia dan akhirat, hadirkan rasa malu kepada Allah yang telah memberi begitu banyak nikmat, dan hadirkan rasa cinta kepada-Nya, karena setiap maksiat menggerus cinta itu.

3. Sabar menghadapi musibah

Inilah jenis yang paling umum dipahami. Yaitu sabar menerima ujian yang tidak bisa dihindari, yang datang tanpa kita pilih. Contohnya sakit, kehilangan harta, ditinggal wafat orang yang dicintai.

Bedanya, dua jenis sabar pertama sifatnya ikhtiari (pilihan, kita bisa memilih melakukan atau tidak). Sedangkan sabar musibah sifatnya iḍṭirari (terpaksa, karena kejadiannya sudah terlanjur terjadi).

Poin pentingnya: ketiganya berpahala tanpa batas, ketiganya sebab masuk surga, dan pada ketiganya Allah bersama hamba-Nya. Jadi jangan cuma menunggu musibah untuk merasa "sedang bersabar". Setiap subuh yang kamu tegakkan, setiap pandangan yang kamu tundukkan, itu semua ibadah sabar yang sedang berjalan.

Tiga tingkatan: dari yang haram sampai yang mulia

Selain tiga jenis, ada tiga tingkatan sikap manusia saat menghadapi ketentuan Allah:

Tingkat terendah: al-jaza' (tidak sabar). Yaitu protes dengan lisan, badan, atau hati. Marah kepada Allah, menyalahkan takdir. Hukumnya haram.

Tingkat kedua: sabar. Yaitu menahan diri meski hati masih tidak menyukai kondisinya. Hukumnya wajib. Ini derajat paling rendah yang tetap harus dicapai setiap muslim.

Tingkat tertinggi: ridha. Yaitu menerima ketentuan Allah sebagai yang terbaik, sampai hati tidak lagi membenci kondisinya, dan tetap berusaha dengan tenang. Hukumnya sunnah, dan ini derajat yang lebih mulia.

Bedanya sabar dan ridha begini: orang yang sabar masih merasa berat dengan kondisinya, tapi ia menahannya. Orang yang ridha sudah tidak membencinya, ia menjalaninya dengan lapang. Tidak semua orang sampai ke ridha, dan itu tidak apa-apa. Yang penting, minimal jangan turun ke jaza'.

Kenapa sabar begitu agung? Ini balasannya

Kalau kamu tahu betapa besar balasan sabar, kamu justru akan melihat ujian sebagai peluang, bukan cuma beban. Berikut beberapa keutamaannya.

Pahalanya tanpa hitungan.

"Innamā yuwaffaṣ-ṣābirūna ajrahum bighairi ḥisāb."

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)

Amal lain umumnya dilipatkan sepuluh sampai tujuh ratus kali. Tapi pahala sabar disebut bighairi ḥisāb, tanpa hitungan. Dan yang paling berat sekaligus paling besar pahalanya adalah pada hantaman pertama musibah. Justru di detik-detik pertama itulah, kalau kita membanting HP atau memaki, pahalanya bisa hilang seketika.

Sabar adalah anugerah terluas.

"Wa mā uṭiya aḥadun 'aṭā'an khairan wa awsa'a minaṣ-ṣabr."

"Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran." (HR. Bukhari & Muslim)

Kalau kamu mendapati dirimu, pasanganmu, atau anakmu sebagai orang yang penyabar, bersyukurlah. Itu tanda hamba pilihan. Tidak setiap orang berilmu otomatis penyabar.

Sabar adalah sebab masuk surga, dan cara tercepat menghapus dosa. Allah menyebut surga sebagai balasan langsung atas kesabaran (QS. Al-Insan: 12, QS. Al-Furqan: 75). Bahkan para malaikat menyambut penghuni surga dengan ucapan, "Salāmun 'alaikum bimā ṣabartum" (keselamatan atas kalian karena kesabaran kalian, QS. Ar-Ra'd: 24). Dan setiap kelelahan, sakit, kesedihan, bahkan duri yang menusuk seorang mukmin, semuanya menggugurkan dosa (HR. Bukhari & Muslim).

Allah mencintai dan menyertai orang sabar. "Wallāhu yuḥibbuṣ-ṣābirīn" (Allah mencintai orang-orang yang sabar, QS. Ali Imran: 146). "Innallāha ma'aṣ-ṣābirīn" (Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar, QS. Al-Baqarah: 153). Pertanyaannya bukan seberapa besar kita mencintai Allah, tapi apakah Allah mencintai kita. Sabar adalah salah satu jalannya.

Kisah Su'airah: memilih sabar demi surga

Ada satu kisah yang menggetarkan. Seorang wanita bernama Su'airah al-Asadiyah datang kepada Nabi ﷺ. Ia menderita epilepsi. Saat kejang, tubuhnya terjatuh dan sebagian auratnya kadang tersingkap, dan itu membuatnya sangat malu. Ia meminta Nabi ﷺ mendoakan kesembuhannya.

Nabi ﷺ menawarkan dua pilihan: didoakan sembuh, atau bersabar dengan penyakit itu dan baginya surga.

Wanita itu menjawab, "Aku memilih bersabar." Lalu ia menambahkan satu permintaan, "Tapi doakanlah agar auratku tidak tersingkap saat aku kambuh." Nabi ﷺ pun mendoakan hal itu. (HR. Bukhari no. 5652 & Muslim no. 2576) (Muslimah.or.id — Su'airah, wanita penghuni surga, Pesantren Al-Irsyad — Bercermin kepada wanita penghuni surga)

Lihat betapa berharganya surga, sampai ia rela menukar kesembuhan dunia dengannya. Inilah bukti bahwa sabar adalah jalan cepat menuju surga.

Dan memang begitu prinsipnya: semakin tinggi iman seseorang, biasanya semakin berat ujiannya, agar derajatnya semakin tinggi. Nabi ﷺ bersabda bahwa orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, lalu orang-orang saleh, lalu yang semisalnya, dan seseorang diuji sesuai kadar imannya (HR. Tirmidzi).

Sepuluh sebab agar bisa bersabar (Ibnu Qayyim)

Sabar itu berat kalau kita andalkan kekuatan diri sendiri. Karena itu Al-Qur'an mengajarkan aṣ-ṣabru billāh, sabar dengan pertolongan Allah: "Waṣbir wa mā ṣabruka illā billāh" (dan bersabarlah, dan kesabaranmu itu hanya dengan pertolongan Allah, QS. An-Nahl: 127).

Dalam kitab Ṭarīqul-Hijratain, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyebutkan sepuluh hal yang, jika kita hadirkan, akan menumbuhkan kesabaran. Berikut ringkasannya.

  1. Ingat pahalanya yang sangat besar. Pahala sabar tanpa hitungan (QS. Az-Zumar: 10). Sadari ini terutama pada guncangan pertama musibah.

  2. Ingat sabar menghapus dosa. Setiap kesulitan yang kamu tahan dengan sabar sedang merontokkan dosa-dosamu, termasuk dosa yang tidak kamu sadari.

  3. Ingat semua sudah takdir. "Mā aṣāba min muṣībatin fil-arḍi wa lā fī anfusikum illā fī kitābin min qabli an nabra'ahā." (QS. Al-Hadid: 22). Semua sudah tercatat jauh sebelum langit dan bumi diciptakan. Yang ditakdirkan menimpamu tak bisa dihindari; yang ditakdirkan meleset tak akan menimpamu.

  4. Ingat bahwa sabar itu wajib. Tidak ada khilaf di antara ulama soal wajibnya sabar. Kalau kita tidak menjalankannya, kondisi justru makin menyiksa.

  5. Ingat musibah bisa jadi akibat dosa. "Wa mā aṣābakum min muṣībatin fabimā kasabat aidīkum." (QS. Asy-Syura: 30). Maka saat diuji, perbanyak istighfar. Kata Ali bin Abi Thalib, "Tidak turun musibah kecuali karena dosa, dan tidak diangkat kecuali dengan tobat."

  6. Yakini ini pilihan Allah yang terbaik untukmu. Seorang salaf berkata, "Jika doaku dikabulkan, aku gembira. Jika tidak, aku gembira dua kali, karena pilihan Allah pasti yang terbaik." Catatan: ini terbaik dengan syarat kita bersabar.

  7. Anggap musibah sebagai obat dari Sang Tabib. Allah paling tahu penyakit hatimu (sombong, ujub). Kadang ujian adalah obat pahit yang menyembuhkan. Jangan "dimuntahkan" dengan marah dan keluh, karena obatnya jadi sia-sia.

  8. Sadari tak ada kesembuhan kecuali lewat obat ini. "Wa 'asā an takrahū syai'an wa huwa khairun lakum." (QS. Al-Baqarah: 216). Lihat Nabi Yusuf: dibuang, dijual, dituduh, dipenjara, dan tiap "obat pahit" itu justru mengantarnya menjadi orang besar di Mesir.

  9. Ingat ujian datang untuk menguji, bukan membinasakan. Ini seperti ujian kelayakan: sabar, maka kamu naik derajat; tidak sabar, maka ujian menumpuk.

  10. Sadari Allah sedang mendidikmu lewat nikmat dan ujian. Hamba sejati beribadah kepada Allah dalam suka dan duka, bukan hanya saat nyaman.

Hikmah di balik ujian, dan lima kiat praktis

Sebelum bicara kiat, penting dipahami dulu: hidup ini memang medan ujian, dan tidak ada yang lolos dari ujian.

"Alladzī khalaqal-mauta wal-ḥayāta liyabluwakum ayyukum aḥsanu 'amalā."

"Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2)

Yang kaya diuji dengan hartanya, yang miskin diuji dengan kekurangannya. Yang punya anak diuji, yang belum punya juga diuji. Tidak ada kenikmatan di dunia kecuali di baliknya menanti sepetak kesedihan. Menyadari ini saja sudah menenangkan, karena kita berhenti berharap hidup tanpa ujian.

Lalu, apa hikmah di balik ujian? Setidaknya ada lima: menghapus dosa, menghilangkan kesombongan dan mengenalkan kita pada kelemahan diri, menyadarkan kita akan nikmat Allah (sehat itu mahkota yang hanya terlihat oleh orang sakit), menjadi teguran agar kembali ke jalan-Nya, dan membuat kita rindu pada akhirat yang sempurna karena dunia memang tidak pernah sempurna.

Dan berikut lima kiat praktis agar lebih mudah bersabar:

1. Lihat yang di bawahmu, bukan yang di atasmu. Nabi ﷺ menganjurkan melihat orang yang kondisinya lebih susah, bukan yang lebih beruntung (HR. Muslim). Kamu susah, masih ada yang lebih susah. Ini memudahkan syukur.

2. Sadari musibahmu lebih ringan dari yang mungkin terjadi. Mobil rusak? Alhamdulillah yang rusak besi, bukan nyawa. Ketinggalan pesawat? Bisa jadi Allah selamatkan dari sesuatu yang lebih buruk. Selalu ada sisi "alhamdulillah yang kena cuma sebagian".

3. Ingat pahala besar bagi orang sabar. Ubah cara pandang. Saat diuji, pahala sedang berjalan cepat, bukan sekadar musibah yang harus ditahan.

4. Ucapkan doa saat musibah datang. Sebelum emosi naik, ucapkan:

"Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn. Allāhumma'jurnī fī muṣībatī wa akhlif lī khairan minhā."

"Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini, dan gantikanlah untukku dengan yang lebih baik darinya." (HR. Muslim)

5. Yakini semua sudah ditakdirkan. Dengan keyakinan bahwa semua sudah tercatat, hati jadi lebih tegar. Kita berhenti menyesali "andai begini, andai begitu".

Penting: sabar bukan berarti pasrah dan diam

Ini sering disalahpahami. Sabar tidak sama dengan menyerah dan tidak berbuat apa-apa.

Nabi Nuh 'alaihissalam berdakwah selama 950 tahun sambil terus berusaha, bukan diam di rumah. Nabi Ya'qub bersabar, tapi tetap mengirim anak-anaknya mencari Yusuf. Bani Israil bersabar atas penindasan Fir'aun, dan Allah tetap mengutus Nabi Musa untuk membebaskan mereka.

Jadi rumus sabar yang benar adalah: berusaha maksimal + menahan emosi + menyerahkan hasil kepada Allah. Kamu tetap berobat saat sakit, tetap mencari solusi saat ada masalah, tetap melapor saat dizalimi. Yang ditahan adalah gejolak hati dan lisan, bukan ikhtiar.

Al-Alusi dalam tafsirnya menyebutkan pelajaran indah dari kisah Bani Israil: siapa yang bersabar (tanpa mengamuk, tapi tetap berusaha), Allah akan mendatangkan solusi dari arah yang tidak disangka. Siapa yang tidak sabar, Allah biarkan ia mencari jalannya sendiri.

Tiga perumpamaan yang menenangkan

Untuk menutup, ada tiga gambaran yang bisa kamu simpan di hati.

Ujian itu seperti pandai besi memurnikan emas. Emas dibakar untuk memisahkan kotoran dan campurannya, sampai tersisa emas murni. Begitulah Allah menguji hamba-Nya berulang kali, sampai "perunggu" dalam iman kita luruh dan tersisa iman yang bersih. Kata Ibnu Qayyim, di balik ujian ada nikmat yang kadang lebih besar daripada nikmat yang datang langsung.

Ujian itu seperti obat dari dokter yang paling tahu penyakitmu. Pahit di lidah, tapi menyembuhkan. Jangan dimuntahkan dengan keluh dan marah.

Dan yang terakhir: semua akan berakhir. Ada seorang saleh yang membuat cincin bertuliskan "semua akan berakhir". Saat ditimpa masalah, ia membacanya dan tenang, karena ini akan berlalu. Saat diberi kesenangan, ia membacanya juga, agar tidak lupa diri. Bahkan saat diomeli pasangan, ia ingat, setengah jam lagi juga selesai.

Pertanyaannya sederhana: kamu ingin akhirnya indah atau pahit? Kalau ingin indah, sabar adalah jalannya. Sabar memang pahit di awal, tapi manis melebihi madu di akhir. Semakin pilu hatimu saat bersabar, semakin nikmat balasannya kelak.

Penutup

Sabar bukan nasihat kosong yang dilemparkan saat kita tidak tahu harus berkata apa. Sabar adalah ibadah teragung yang Allah sebut hampir seratus kali, jalan tercepat ke surga, dan sarana dicintai serta disertai oleh Allah. Ia hadir di tiga wajah: sabar menegakkan ketaatan, sabar menjauhi maksiat, dan sabar menerima takdir. Ketiganya sedang kamu jalani, mungkin tanpa kamu sadari.

Bagi Sahabat Faaza yang sedang menabung dan menanti giliran ke tanah suci, sabar ini akan sangat terpakai. Perjalanan umroh sendiri, dengan segala keramaian, panas, dan lelahnya, oleh Nabi ﷺ disebut sebagai "jihad tanpa peperangan". Ia adalah salah satu ujian yang justru kita cari karena mengharap pahala. Latih sabarmu dari sekarang, dari rumah, dari hal-hal kecil, agar saat tiba di Masjidil Haram nanti, hatimu sudah terbiasa tenang.

Dan sabar itu terasa lebih ringan saat kita ditemani orang-orang baik. Salah satu ikhtiar kami di Faaza adalah menjaga rombongan tetap kecil, supaya setiap jamaah benar-benar terlihat, terdampingi, dan tidak ada yang merasa berjalan sendirian. Dari yang awalnya tidak saling kenal, perlahan menjadi seperti keluarga kecil yang sama-sama menuju ridha-Nya, saling menjaga dan saling menguatkan dalam kesabaran. Umroh yang tenang dan hangat seperti ini, insyaAllah, membuat setiap langkah terasa lebih bermakna.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang penyabar, yang mengeluh hanya kepada-Nya, dan yang akhir perjalanannya indah.

Kalau Sahabat Faaza ingin ngobrol soal persiapan hati atau ingin merasakan umroh yang lebih intim dan penuh perhatian bersama rombongan kecil, tim kami siap mendampingi dari awal. Salam hangat dari keluarga besar Faaza Travel.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Next
Next

Keutamaan Kota Madinah: 18 Hadits Shahih tentang Kota Nabi ﷺ yang Perlu Kamu Tahu